Belajar Politik Usia Dini Laboratorium Demokrasi

 




Mengedukasi puta putri untuk belajar politik sejak dini. Pendidian politik sangat penting dan belajar politik tidak mengenal usia. Dan perlu mengenal politik, bukan politik praktis tapi mengetahui proses demokrasi. Minmal paham hak politik, hak memilih, hak dipilih dan tahapan seseoarang bisa menjadi wakil rakyat.


Usia pra pemilih bisa belajar agar ketika sudah memiliki hak pilih bisa menggunakan haknya dengan baik. Pemilihan umum adalah perwujudan hakwarga negara. Setiap warga negara harus paham bahwa dia adalah pemilik negara ini. Ketika sudah memiliki hak pilih, ketika memilih pemimpin dia memilih masa depannya. Harus kita ketahui dan kita tanamkan pada masyarakat. Ketika melaksanakan pemilu tidak sekedar nyoblos, tapi mempertaruhkan masa depan pada pemilihan umum. Ini harus disadari

Pemiliha umumharus bisa mewujudkan kemakmuran dan ekonomi. Artimnua pemilu menentukan pemimpi yang membawa rakyatnya pada kemakmuran. Ini tentunya disitu ada aturan yang harus dipatuhi. Afgar pemilu berkualitas maka regulasinya harus baik dan apemilihnya harus berkualitas. Dan untuk sampai pada pemilih berkualitas prosesnya tentu Panjang dari dia belum menjadi pemilih sampai kemudian pada batas usia tertentu, setelah memenuhi syarat regulasi dia menjadi pemilih.

Di usia dini, kelompo pra pemilih, ada pada usia sebelum 17 tahun. Para pra pemilih sudah memiliki gambaran apa yang akan dilakukan saat dia akan menjadi pemilih. Kita KPU masuk disitu, bahwa pemilu bukan hanya nyoblos tapi juga menentukan masa depan dan informasi bahwa pilihan kita akan menentuka nasib kita. Itu harus disebarkan pada kelompok pra pemilih. Informasi itu yang kita harus sampaikan.

Selama ini mereka pra pemilih mendapat pendidika politik melalui Pendidikan tata kelola negara, melalui mata pelajaran dan sekolah-sekolah.  Baim itu SD, SMP, atau SMA. Tujuannnhya agar mereka riil menjadi pemilih yang tau kenapa harus memilih. Sejak kecil harus di edukasi.

Contohnya adalah pemilihan ketua OSIS. Dimana pada pemilos ini, ketua osis  menjadi representasi dari siswa sekalian yang akan menyampaikan aspirasi kepada guru, sebagai mediator. Proses memilih dari pemilih yaitu semua warga sekolah, siswa, guru, karyawan.

Yang menentuka wakil dari siswa yang akan berkomuniukasi dengan guru adalah siswa. Dari proses inilah siwa akan belajar bahwa calon yang akan mereka pilih tentu dengan alas an tertentu antara lain mampu menyampaikan aspirasi kepadamguru dan mereka anggap kompeten dan mampu mengemban tugas sebagai ketua.

Ada alas an kedekatan, ada karena memang kualitas siswa, teman sekelas, atau alas an lain yang merepresentasikan alas an memilih bagi pemilos bahkan pemilu secara umum.

Politik diajarkan dengan pola pikir yang terbentuk dengan pembelajaran kedaulatan rakyat dimana anak-anak bisa mempraktekan. Mereka belajar (siswa atau pra pemilih) belajar sambil kemudian mempraktekan.

Setelah praktek dan pada saatnya harus memilih mereka sudah siapd an punya kesadaran atau pengalaman dasar. Mengingat semua tahapan dan proses dalam pemilihan ketua OSIS ini dilakukan semirip mungkin dengan pemilihan umum. Mulai dari tahapan penentuan daftar pemilih, pencalonan, visi misi, orasi narasi, kampanye dan semua tahapan.

Semua tahapan pemilihan ketua OSIS yang dilakukan secara langsung dengan memberikan simulasi seperti itu target capaian untuk anak-anak pra pemilih adalah pembelajaran yang membuat jenuh bisa dihilamngkan dengan belajar dan praktek, melibatkan smua siswa untuk belajar demokrasi. Merdeka belajar menjadi salah satu format dari pengalaman yang bisa diceritakan kepada orang rumah, tentu berbeda dengan metode belajar duduk dan menyimak.

Perencanaan dari pihak sekolah yang bisa dibuat dua tim guru dan siswa. Proses Panjang hingga terlaksana adantara lain merancang teknis angendakegiatan seperti apa, berdiskusi dengan siswa, kemudian melakukan seleksi dengan cara membagikan formulir untuk menjadia pengurus OSIS. Melakukan test tertulis, dengan antusias, proses seleksi dilakukan dengan baik, setelah melalui seleksi ini mengerucut dalam seleksi wawancara, kemudian dipilih tiga calon ketua. Kemudian tiga orang ini akan memilih wakil yang akan mereka ajak untuk bekerjasama menjadi calon ketua OSIS.

Pada proses demokrasi sesungguhnya, calon kepala daerah dipilih melalui seleksi yang dilakukan melalui proses konvensi di partai. Seleksi inilah yang kemudian siswa bisa belajar proses menjadi pemimpin.

Pemilihan ketua OSIS bisa menjadi semacam simulasi. Dimana demokrasi di sekolah diajarkan secara teori dan praktek. Tidak lagi memilih ketua OSIS dengan cara-cara lama yang sudah baheula. Tapi dengan cara menyenangkan. 

Anak-anak juga sebenarnya ingin tau antara kenyataan dan yang diharapkan bisa saling menyesuaikan. ada peran-peran yang diharapkan saat dewasa seperti apa. memilih pemimpin seperti apa dan bagaimana caranya. apa yang diharapkan dari proses pemilihan. bagaimana proses menjadi pemimpin. dalam materi PPKn begitu.

frame menjadi pemimpin dan prosesnya harus masuk dalam pola pikir masyarakat. meskipun ada juga orang tua yang kemudian berfikir ngapain sih anak-anak belajar politik. kan masih kecil. nah pola pikir ini yang mesti dirubah. bagaimana anak-anak ditanamkan pengetahuan dasar memilih dan dipilih. kriteria dan idealisme pemilih atau pemilih yang ideal harus bagaimana, ini yang harus ditanamkan. misalnya bahwa memilih karena dikasih uang itu tridak boleh. jika pemikiran seperti ini kemudian disampaikan oleh anak-anak maka akan menjadi daya dobrak kesadaran orang tua bahwa politik uang atau money politik itu menyalahi aturan. bayangkan jika hal seperti itu disampaikan oleh anak-anak.

kalau memilih jangan karea uang, memilih itu karena alasan ini, calonnya begini ini yang baik. pertimbangan dasar sekolah adalah laboratorium demokrasi di sekolah. melalui laboratorium ini anak-anak bisa belajar demokrasi untuk bisa memilih dengan ujur dan adil.

Alasannya kenapa, pada pemilihan kepala desa. di desa, politik uang yang kemudian disebut kepyur, serangan fajar, amplopan, atau apalah sebutannya sangat marak. anak-anak juga tau bahwa ketika orang taunya mendapatkan sejumlah uang untuk mencoblos, mereka mendapatkan bagian untuk jajan. nah disinilah yang keliru. memilih itu mestinya karena kualitas dan kemampuan yang akan dipilih. idealnya bukan karena sejumlah uang jajan.

KPUI bisa hadir di sekolah. kedatangan dengan simbol-simbol KPU, bilik dan kotak suara dengan stiker KPU. munculnya lambang KPU sebagai simbol lembaga negara. mereka akan terngiang ngiang dan ingat sampai kapanpun. bahwa pengalaman pertama melihat simbol lembaga negara. well being siswa akan tepat sasaran. dan daper banget.

lebih menyenangkan lagi jika dikonsep adanya dukungan dan suport bagi calonnya. adanya tim sukses anak-anak yang kemudian mengkampanyekan calonnya masing-masing. ada semacam persaingan yang menarik. terbentuk kubu-kubuan yang positif karena dipastikan ada kecenderungan yang mengerucut pada satu calon. dimana saat harus bersaing mereka bersaing. namun saat sudah terpilih masing-masing pihak bisa saling dukung dan tidak terpecah-pecah.

bangunan kuat diawali dari pondasi yang kuat. pendiikan demokrasi yang kuat kepada anak-anak, diharapkan mampu membentuk karakter politikus masa depan yang baik. pada proses pendidikan inilah tujuan pemilu untuk kemakmura bersama. pondasi ini disampaikan sejak dini. 

kelompo keluarga, pra pe,ilih, basis keluarga dan marginal. untuk anak-anak usia dini bisa belajar pada rumah pintar pemilu dan sebagainya. diharapkan dari sinilah generasi penerus bisa belajar demokrasi. pemahaman tentang demokrasiyang baguis kepada generai muda sebagai poindasi pemimpin masa depan.

10 Februari 2022 sambil nunggu waktu sholat

Ha…… belajar yuuk kawan. (didin)

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengelola keamanan siber menuju kedaulatan digital untuk pemilu