DIGITALISASI PEMILU DI NEGARA DEMOKRASI TERBAIK DI DUNIA, INDONESIA
DIGITALISASI PEMILU DI NEGARA DEMOKRASI TERBAIK DI DUNIA, INDONESIA
Digitalisasi Pemilu Meski Tidak Mungkin Semuanya,
Bagaimana rencana KPU sebagai penyelenggara menyederhanakan
pemilu serentak 2024, dalam kaitannya menggunakan teknologi informasi atau
aspek digitalisasi pemilu. Karena diharapkan pemilu bisa dilakasanakan dengan
pemilu elektronik. Karena pileg 2019 atau pilkada serentak 2020 surat suaranya
lebar. Jika lebih sederhana dan lebih kecil bisa lebih efisien.
Apakah ada rencana ada pemilu elektronik?
Berikut beberapa pemikiran dan gagasan KPU dalam rangka
menciptakan pemilu yang lebih efisien dan tentu saja efektif dalam aspek
digital. Viryan Azis anggota KPU RI.
Tema elktronisasi Pemilu
Tema pemilu elektronik bukan hanya isu kekinian, sebenarnya
kebutuhan Indonesia. Penyelenggaraan pemilu diIndonesia, jika dibandingkan antara penyelenggara di berbagai
negara, sejak 2014 kemudian kemarin2020 semakin banyak negara yang ingin belajar
bagaimana pemilu di Indonesia.
Terakhir pemilihan serentak 2020, beberapa menurut Viryan
Azis berdasarkan pengalaman pribadi, konon banyak penyelenggara pemilu dari berbagai
negara yang menyelenggarakan pemilihan bertanya dan berdiskusi bagaimana sesungguhnya
pemilu di Indonesia.
Negara Indonesia sudah sangat maju di tingkat demokrasi electoral,
yang berintegritas. namun kadangkala mungkin
ya bangsa kita ini masih ada psikologi inferior kompleks, ga PD dengan yang
dilakukan Bangsa Indonesia dalam hal proses demokrasi dan bagaimana
penyelenggaraan pemilu.
Apa yang kita lakukan KPU dan bangsa Indonesia, ini sudah
jauh lebih baik, memang masih ada
kurangnya. Bagaimana dengan aspek
digitalisasi Pemilu, sudah terbiasa
mendengar Pemilu elektronik atau evoting. Membuat kayaknya pemilu menjadi
ketinggalan. Sebenarnya pelaksanaan pemilu yang dilakukan oleh KPU dan bangsa
Indonesia oleh negara demokrasi lainnya sudah sangat bagus.
Publik sudah terbiasa mendengar Pemilu elektronik, atau evoting dan ada keinginan, Kenapa sih kita tidak Pemilu elektronik ? itu
yang sampai sekarang mengemuka. kemudian
ditanya KPU ini sebenarnya respon-respon
ini nggak sih?
KPU saya yakin sangat merespon. jadi kita juga sangat ingin bagaimana Pemilu
itu bisa semakin berkualitas. indikator
kualitas itu ada sejumlah variabel yang kemudian dikenal dengan prinsip-prinsip
demokratis. prinsip-prinsip demokratis
itu kemudian kita coba uraikan secara teknis, yang secara sederhana adalah salah satunya
misalnya waktu penghitungan suara rekapitulasi sampai penetapan 2014-2019.
Pemilunya hari H hasilnya itu secara nasional kurang lebih
30 hari. sebagian kalangan mengatakan, teman-teman teman-teman milenial ya Hari gini
kok masih lama banget terus sih gitu ya…
KPU mendengar pandangan itu dan KPU berusaha untuk ini
kira-kira bagaimana bagusnya. seperti
apa? tapi kita juga perlu ingat, bahwa Pemilu ajang kontestasi, banyak pihak melakukan upaya hal-hal yang
paling mungkin dilakukan. baik secara
dengan cara-cara yang legal maupun cara-cara yang tidak baik. pada konteks itulah perlu kehati-hatian.
Perlu kehati-hatian misalnya, Pemilu, salah satu Pemilu di negara demokrasi besar di
luar negeri, itu dianggap termanipulasi
hasilnya. sehingga muncul disinformasi
misalnya Pemilu 2019 kemarin hasilnya di manipulasi melalui teknologi informasi
oleh KPU.
sekali lagi hal semacam ini tidak mungkin melakukan
manipulasi, karena Pemilu kita masih
Pemilu manual. yang dilakukan secara
elektronik, lewat situs yang kemarin. sempat hits namanya situng. itu sebagai alat bantu, bukan sebagai dasar penetapan jadi kalau kita
bagi , dalam dua proses ini, katakan
level bawah, di tingkat Desa TPS, kecamatan, kabupaten kota Provinsi dan pusat, secara teknis bisa diuraikan ringkasnya. ini proses manual, kemudian secara paralel proses elektronik, itu berjalan di sini jadi misalnya ada di TPS
di kecamatan, direkap di Kabupaten, hasilnya itu juga secara bersamaan di input, tapi bukan hasil input inilah yang kemudian di
dasar penetapan, tapi tetap bergandeng.
Kedepan bisa tidak hasil yang secara digital saja, dan ke
depan ini, untuk 2024 undang-undang kita
masih mengamanahkan Pemilu manual.
tapi bukan berarti kita tidak melakukan digitalisasi pemilu.
secara bersamaan sebenarnya di berbagai
negara di luar di Eropa di Amerika dan sekitarnya digital. yang dimaknai dengan pemilu elektronik yaitu
pemungutan suara nya secara digital justru kembali ditinggalkan. kenapa ditinggalkan, karena potensi manipulasinya cukup tinggi. ketidakpercayaan publik juga terjadi kalau
kita cari misal internet, di beberapa
negara kawan baik bisa lihat itu sudah ditinggalkan.
kembali ke manual, seperti apa? ada banyak pilihan, catatan-catatan baiknya adalah Indonesia
menyelenggarakan pemilu di tingkat TPS yang seperti itu, itu dianggap sebagai salah satu praktek
demokrasi elektoral terbaik di dunia.
Banyak kalangan ini desain yang salah satu, yang terbaik, sangat demokratis, masyarakat terbuka, maka kemudian kami berpikir digitalisasi
Pemilu seperti apa yang bisa dilakukan.
nah rumus sederhananya kan harus yang simpel-simpel. rumus
sederhananya, tahapan Pemilukada 11 di
undang-undang 7 di pasar 16 7 ada 11 tahapan semuanya dimungkinkan secara
digitalisasi KPU berikhtiar melakukan itu.
di masa sekarang, kecuali pemungutan suara. jadi pemberian suara itu kalau dikaitkan
dengan aspek digital ada pertama yang kedua ecounting yang ketiga erekap. e-voting itu kegiatan pemberian suaranya
secara elektronik ini sejumlah negara yang menerapkan ecounting , sudah
meninggalkan yang kedua ecounting itu surat suara yang sudah dicoblos dihitung
pakai alat macam-macam caranya Salah satunya itu seperti Korea Selatan yang
ketiga erekap ini direkap ini yang bisa kemudian memberikan dampak hasil pemilu
kita bisa lebih baik lagi bisa lebih cepat.
Jadi surat suara yang sudah dicoblos, dihitung pakai alat. macam-macam caranya, Salah satunya itu seperti Korea Selatan. yang ketiga dekat-dekat ini yang bisa kemudian
memberikan dampak hasil pemilu kita bisa lebih baik lagi bisa lebih cepat
didapatkan itu dilakukan dengan cara misalnya yang tadi seperti di TPS bisa
tahapannya dipangkas menjadi lebih cepat 2014 sudah digunakan 2019 sudah
digunakan tapi kita punya persoalan terkait dengan kepercayaan publik pelajaran
dari Pemilu 2019 ini sebagai hasil yang hasil untuk alat bantu saja dicurigai
macam-macam kalau kita saksikan ingat sidang MK setiap 15 menit sekali
konsisten ada perubahan yang berubah kaitkan diupdate misalnya di proses-proses
semua masuk ke dalam "pusat tabulasi data kita secara digital ketika masuk
kemari kan kemudian kita tampilkan republik kan harus diambil updatenya itu
kita ambil kebijakan tiap 15 menit sekali tapi KPU udah dibilang ada perubahan
suara secara konsisten secara terus-menerus waktunya selama ini emang itu sudah
ditetapkan oleh KPU.
Pemilu elektronik semisal evooting angat mungkin tidak bisa
dilakukan karena negara maju aja meninggalkan. tapi dari kertas suara yang dicoblos kan
dituangkan ke dalam lembar-lembar c itu ditulis di sana ya itu yang di scan.
Ada ada dua proses sebelum kita menerapkan setelah situng
2019 kami mengembangkan yang disebut dengan si rekap ini untuk sistem informasi
rekapitulasi teknik gambarnya sebelum sampai ke si adek abang waktu Pemilu 2019
dan pemilihan kepala daerah hasil pemilu di TPS dipindahkan ke c Plano dari c
Plano yang ditempel itu dipindahkan ke formulir kecil hasil evaluasi kita
proses ini berpeluang manipulasi maka 2020 dibuat kegiatan Ini digabung
langsung difoto difoto pakai teknologi foto dikirim.
kita menggunakan pendekatan pendekatan media social, jadi seperti langsung ke server kami Kabupaten,
ke itu langsung tapi hasilnya kan bisa
diatur.
Mimpi yang realistis salah satunya adalah misalnya sekarang
ini paling tidak Ya e vooting diwujudkan nanti kita lihat, apakah memungkinkan secara teknis diesel
enggak disiapkan dan diselenggarakan. selama ini kalau Anda datang ke TPS pastikan
bahwa yang namanya dulu C6 yang kemudian pemilihan serentak menjadi c
pemberitahuan sama KTP elektronik datang ke TPS tunjukin itu di beberapa daerah
ada potensi manipulasi dipalsukan lah macam-macam kemudian datang ke TPS
setelah di absen nunggu dapat surat suara ke bilik nyoblos.
Digitalisasi misalnya
dengan teknologi, jadi pemberitahuan
yang dulu namanya C6, ada barcode-nya bisa saja misalnya Bang Iswan enggak
pemberitahuan tidak lagi dibagikan tapi masing-masing bisa downloadkan. ke depan 3 tahun ini, budaya digital semakin meningkat kebiasaan
hidup secara digital. juga semakin meningka, t jadi bisa aja datang menunjukkan
di hp-nya ini QR code scanner barcode-nya oleh KPPS kita muncul-muncul yang
namanya Kita nomor urut sekian, langsung
dikasih tanda muncul absensi di aplikasinya itu klik sudah sudah ada di klik
namanya masuk karena hp-nya ini aplikasi saling terhubung yang di meja itu juga
sudah tahu kalau ada Pak Iswan nih langsung dipanggil Anda dikasih surat suara
mencoblos ketika kembali di klik sudah memilih, langsung keluar.
apa yang terjadi dengan cara seperti ini, bila teknologi kita memungkinkan dan anggaran
memungkinkan kita itu selama ini Indonesia hanya punya tak hanya punya data
tingkat partisipasi sekian persen pertanyaannya dari yang sekian persen itu
yang milih siapa By name by address nggak ada data detailnya dengan cara ini bisa.
Digitalisasi ada 3 tahap e voting, e counting , ya kemudian sirekap. tahapan yang paling mungkin dilakukan dengan
konsep digitalisasi itu, hanya di dua
tahap ini e counting dan sirekap. waktu Pemilu kemarin itu yang sudah mulai
didigitalisasi Apa yang dilakukan Pemilu kemarin belum semuanya.
Sirekap membangun digitalisasi pemilihan, perlu ekosistem. ekosistem yaitu paling tidak ada tiga hal Ya yang
pertama menyangkut kerangka regulasi, kontestasi dalam Pemilu, itu harus bersandar kan nanti kan muaranya
regulasinya gimana sih muara akhir hasil pemilu di MK maka apapun juga yang
dibuat oleh penyelenggara harus memiliki kerangka hukum yang kuat. yang pertama kerangka hukum kita pada saat ini
terkait dengan digitalisasi Pemilu itu belum memadai yang ada kalau kita di undang-undang
pemilu terkait dengan sistem informasi itu hanya sistem informasi data pemilih
ini beranjak dari kasus 2009 yang kedua aspek infrastruktur infrastruktur
digital digitalisasi secara nasional praktisnya adalah apakah akses internet
pada tahun 2024 sudah ada di seluruh Indonesia.
idealnya , tidak ada lagi, tapi ini kan masih 2021 yang ketiga terkait
dengan kondisi literasi digital masyarakat termasuk penyelenggara termasuk
penyelenggara di tingkat sudah mulai 2020 itu di setiap TPS ada dua petugas yang
download aplikasi rekap dan memfoto dan ini sudah cukup baik kita mengikuti
ketika mengambil kebijakan salah satunya terkait dengan digitalisasi Pemilu uji
cobanya di pemilihan serentak lewat aplikasi kita menghitung dari sejumlah data
literasi digital masyarakat berapa dan kita memprediksi perkembangan
pertumbuhan digitalisasi kita tinggi sekali ini bersifat eksponensial jadi bisa
dikatakan sebenarnya masyarakat untuk 2023 paling tinggi badan ad hoc itu sudah
terbiasa dengan budaya digital dari tiga hal ini kalau mau ditambah terkait
dengan anggaran kemudian terkait dengan hal-hal lainnya tiga ini yang perlu
dibangun secara simultan poin utamanya terkait dengan asas pemilu yang nanti
munculnya menggunakan irek itu mempertimbangkan tiga hal ini dan ini hanya bisa
dilakukan secara baik kalau kerjanya barang-barang KPU tidak mungkin sendirian
contoh kasus misalnya aplikasinya siap sistem informasinya setiap negara
mendukung pendanaan untuk membangun suatu sistem informasi yang terintegrasi
tapi kalau infrastrukturnya ternyata di sejumlah daerah masih belum cepetan
sayang handphone tentang jaringan dan infrastruktur itu yang nanti munculnya
menggunakan
Tiga ini yang perlu dibangun secara simultan. poin utamanya, terkait dengan digitalisasi Pemilu yang nanti
munculnya menggunakan mempertimbangkan tiga hal ini dan ini hanya bisa
dilakukan secara baik kalau kerjanya barang-barang KPU tidak mungkin sendirian
contoh kasus misalnya aplikasinya siap sistem informasinya siap negara
mendukung pendanaan untuk membangun satu sistem informasi yang terintegrasi
tapi kalau infrastrukturnya ternyata di sejumlah daerah masih blepotan sayang
sekarang pakai handphone.
Kalau awam melihatnya ya setiap orang kan sekarang tuh pakai
handphone Jadi sebenarnya isu tentang jaringan dan infrastruktur itu sebenarnya
sudah enggak relevan masih relevan karena memang banyak orang yang sekarang
memakai menggunakan smartphone tapi yang sekali lagi kita perlu ingat
kerja-kerja kepemiluan secara teknis ini kan ada di ada di akar rumput tersebar
di seluruh Indonesia dari miangas sampai pulau Rote dari Sabang sampai Merauke
semuanya di seluruh TPS itu menggunakan aplikasi jadi tantangannya misalnya di
ujung-ujung Indonesia itu apakah ada akses internet akses internet sendiri
masih bisa diselesaikan dengan cara membuat aplikasi yang sifatnya offline jadi
kata kandarani nggak ada akses internet di ibu kota kecamatan ada ini bisa di
sini pakai offline dulu kecamatan baru di online kan sekali seperti itu tapi
kondisi terbaik ketika di daerah yang kemarin blindspot ini sudah ada akses
internet menyangkut mengenai kecepatan hasil salah satu indikator Pemilu
demokratis itu kecepatan hasil semakin cepat hasil semakin kecil peluang
dimanipulasi maka ini juga menjadi target kita digitalisasi Pemilu memberikan
manfaat bukan hanya dalam "sebatas gagahan tapi memang ini menjadi
kebutuhan begitu dan kalau infrastrukturnya terbangun dengan baik maka kita
bisa berharap kedepan Pemilu kita menjadi lebih baik lagi bahkan diterapkan
lebih luas bukan hanya Pemilu nasional bisa saja Pemilu daerah bahkan pemilihan
kepala desa.
Menjadi mungkin kalau melihat fenomena seperti itu di 2024
yang paling mungkin bisa dilakukan di segmen yang mana tahapan jadi katakanlah
2024 kita lihat undang-undang ada 11 tahapan tahapan yang paling mungkin
kecuali pemungutan suara kita bisa mulai dengan pemutakhiran data pemilih Kita
bisa mulai dengan Kita juga bisa melakukan pada kegiatan pendaftaran dan
verifikasi partai politik kita bisa melakukan pada kegiatan kampanye dan kita
bisa lakukan pada kegiatan manajemen logistik dan terakhir kita bisa melakukan
pada kegiatan rekapitulasi kalau sudah Semuanya semua ini bisa dilakukan secara
digitalisasi dan sangat baik hari H itu tinggal masalah waktu saja jadikan
transformasinya transformasi digital juga tidak mudah harus ada tahapan-tahapan
yang kemudian setiap tahapan itu bermakna kemajuan kan bisa juga tahapan
dilakukan satu Innova secara digital tapi kemudian menjadi langkah mundur
karena yang terjadi bukan kemajuan dalam artian berhasil tapi ketika diterapkan
satu teknologi informasi justru berdampak kepada distras sebagaimana misalnya
terjadi di kainnya di kainnya coba melakukan upaya digitalisasi tapi kemudian
menjadi masalah karena ditransfer jadi sistemnya kasarnya jebol misalnya ada
dipercaya bisa membuat konflik di masyarakat.
Digitalisasi itu sangat terkait dengan literasi atau
kualitas dari SDN penyelenggara nah kalau pimpinannya Kan berganti di setiap
level ya nah kalau kualitasnya di jajaran dalam "kesekjenan ya yang
orangnya tuh tidak pernah berganti di situ karena bukan bagian dari ASN itu
memang tingkat literasi mereka jika sering ke digitalisasi itu sudah Oke kami
sudah mulai dari 2017 Bang Iswan jadi kita sadar kebutuhan digitalisasi Pemilu
kami di beberapa rapat pleno membahas secara intens dan kita melihat SDN kita
pada saat itu belum banyak yang memiliki kemampuan maka sejak 2017 kita
bicarakan dan ada kebijakan dari sekretaris jenderal recruitment untuk pegawai
yang berlatar belakang teknologi informasi ini kita kedepankan dan jumlahnya
sekarang sudah jauh memadai misalnya sebelumnya Bang sistem informasi
dikembangkan oleh KPU kita itu sebatas yang bagian yang menangani teknologi
informasi hanya fungsi-fungsi administrasi kontrak tapi sekarang sejumlah
sistem informasi 2018-2019-2020 sumber daya kita bertambah dan kita punya visi
ke depan yang mengembangkannya ini kita sendiri serentak 2019 dan 2020 sejumlah
sistem informasi dikembangkan oleh jajaran KPU dan ini progres yang cukup baik
menjadi bekal untuk 2024 dan fasilitator kemudian yang mengerjakan itu selain
itu dalam konteks literasi digital ini bukan hanya menggunakan tapi juga harus
ada aspek penting yaitu kebersihan saiber terkait dengan kebersihan Saya ber
misalnya hacking itu kan bisa terjadi salah satunya karena budaya digitalnya
ini kotor yang saya maksud misalnya passwordnya bertaburan passwordnya mudah
diketahui orang suka buka konten aneh-aneh yang kemudian akun medsos ya
misalnya bisa di-hack kan Bisa bertanya seperti itu itu bisa tak bisa terjadi
juga sejak 2019 melakukan pelatihan kebersihan saya jadi bukan hanya
aplikasinya bukan hanya infrastrukturnya tapi literasi budaya digital nya itu
juga kita kembangkan.
SDM yang punya latar belakang teknik informasi ya
komputerisasi segala macam ke berapa persen sekarang dari total pegawai
sebenarnya masih sedikit ya tapi mereka kita harapkan artinya kalau untuk
membangun sistem informasi kan juga nggak perlu banyak yang memadai kalau
dijumlah adalah sekitar kurang lebih 200 orang dan kurang lebih sekitar 11 ribu
Indonesia ada di kantor pusat Kantor provinsi kantor kabupaten kota kurang
lebih 11.200. ini sudah cukup memadai
karena kan kita bicara lembaga kita kan terstruktur dan kebijakan misalnya
membangun sistem informasi cukup di pusat dilakukan terakhir kalau kita 2021
ini.
Kebijakan bisa membangun sistem informasi cukup di pusat
dilakukan kemudian diterapkan ke daerah dilakukan bimtek supervisi begitu kalau
kita mau semakin modern pemilunya dari sisi teknologi komputerisasi
digitalisasi itu kira-kira sempurnanya perlu berapa tahun sekarang ini kan
terjadi yang biasa disebut oleh orang disrupsi digital saya bisa contoh kandang
ada dua yang sedang yang kemarin terjadi erupsi digital di HP yang pertama
tahun 2014 tahun 2014 KPU RI Pada masa itu berhasil melakukan hal sederhana
tapi sebelum-sebelumnya tidak realistis yaitu menghimpun daftar pemilih
se-indonesia sebelum-sebelumnya daftar pemilih by name by address itu hanya
sampai level kabupaten kota lagi sebelum ada teknologi internet sampai
kabupaten kota direkap selebihnya di provinsi sama pusat hanya rekap angkanya
saja datanya di bawah baru 2014 ini terhimpun ini bisa dikatakan disrupsi
digital yang pertama digital kedua kita lakukan kemarin di 2020 menggunakan
aplikasi mobile buat sejumlah kalangan ini biasanya tapi coba kita bayangkan
masyarakat yang menjadi KPPS di daerah Merauke di daerah Sabang di
daerah-daerah pedesaan harus belajar sampai Ada petugas kami yang beli
handphone yang sebaiknya menyesuaikan kita sudah ambil spek HP yang paling
sederhana itu sampai beli saking senangnya Alhamdulillah baik nya adalah tidak
ada petugas kami yang foto selfie kejadian yang di foto itu blangkonya difoto
dikirim ke dalam persiapan kira-kira ada nggak yang misalnya enggak ada waktu
yang sebelumnya pernah ada 2019 ini hal yang baik sekali buat di kita mungkin
nggak mungkin lah tapi dibawa itu kita perlu melihat secara teknis di lapangan
realitas masyarakat kita Alhamdulillah sudah banyak kemajuan digital membantu
upaya digitalisasi Pemilu namun sekali lagi ini semua bergantung pada 3
ekosistem pokok terkait dengan regulasi kemudian infrastruktur yang dibangun
oleh negara dan terakhir literasi digital masyarakat.
Digital ini misalnya seberapa seberapa apa seberapa cepat
Padang direalisir badan itu platform digital nasional nasional yang yang
sederhananya adalah akses internet hadir di seluruh wilayah Indonesia Negara
dan tugas negara kemudian itu menjadi penting jadi katakanlah selain
kemerdekaan Indonesia dari penjajah itu 17 Agustus bagaimana ke depan ada
momentum kita bilang kita ini merdeka dari segi akses internet tidak ada lagi
blindspot dan itu bisa mempercepat banyak hal dalam pembangunan nasional.
Komentar
Posting Komentar